

Abah Ukro (68 tahun), setiap hari dari pagi hingga malan menyusuri jalanan dengan langkah pelan. Di pundaknya tergantung dagangan sederhana buah-buahan dan telur puyuh. Usianya tak lagi muda, tapi ia tetap berjalan lebih dari 15 kilometer setiap hari, berharap ada orang yang mau membelinya.

Saat lelah tak tertahankan, Abah duduk di pinggir jalan. Mengumpulkan tenaga agar bisa kembali melangkah. Sudah delapan tahun Abah merantau dari Banjar ke Bandung, bertahan hidup sebagai pedagang asongan tanpa penghasilan tetap.

Penghasilannya terus menurun. Dalam sehari, Abah hanya membawa pulang sekitar Rp10.000–Rp20.000, itu pun jika dagangannya habis. Jika tidak, ia pulang dengan tangan kosong, menahan lapar dan letih yang tak terucap.
Abah tinggal di kontrakan kecil bersama adiknya. Dari penghasilan yang sangat terbatas itu, ia harus membayar kontrakan, membeli beras, dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sering kali tak cukup, tapi Abah tak pernah berhenti berusaha.
Di usia senja, Abah seharusnya bisa beristirahat. Namun keadaan memaksanya tetap berjuang di jalanan. Uluran tangan kita bisa menjadi harapan bagi Abah Ukro, agar ia tak lagi menanggung lelah sendirian, dan bisa menjalani hari-hari dengan lebih layak.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik