Ke rekening Bank Bank BRI*** ***6530 a/n KOMUNITAS DARMA SATYA PERTIWI


Mbah Sujiyem usianya saat ini 98 tahun. Ia tinggal bersama menantu dan cucunya, suami mbah Sujiyem sudah lama meninggalkannya. Setelah kepergian suaminya, mbah harus kehilangan anak semata wayangnya. Rumah yang sangat sempit dan kotor harus ia tinggali.
“Mbah sudah tua, tapi sebisa mungkin Mbah kalau bisa mencari nafkah sendiri. Meskipun pendapatan tidak bisa dipastikan dan keuntungannya cuma sedikit Mbah tetap bersyukur” - Mbah Sujiyem

Keterbatasan ekonomi dan keadaan yang membuat mbah Sujiyem harus berjuang mencari rezeki diluar sana. Seisi rumah dihuni oleh Perempuan semua, untuk itu mau tak mau mbah Sujiyem harus rela menjadi tulang punggung di dalam keluargamya.
“Mbah gak mau merepotkan menantu & cucu. Mereka juga sedang berusaha bangkit dari keterpurukan pasca ditinggal ayah sekaligus suami mereka”, ujar Mbah Sujiyem

Sehari-hari mbah Sujiyem berjualan sandal jepit di trotoar pasar pasty Yogyakarta. Mbah tidak mampu membayar sewa kios yang sangat mahal. Jadi mau tak mau simbah harus berjualan dengan menggelar lapak di trotoar pasar.
Mbah biasanya kulakan 2 hari sekali. Setiap hari mbah membawa sandal 10 pasang dan sepasang sandal harganya Rp 30.000, dari situ simbah cuma dapat untung Rp 9.000.
Jumlah sendal yang terjual pun tidak menentu setiap harinya. Sehari kadang hanya dapat 60 ribu saja. Itu belum dipotong ongkos mbah naik becak, seharinya bisa 45 ribu untuk perjalanan pulang pergi dari rumah mbah ke Pasar Pasty.
Berapapun yang mbah dapat, ia selalu bersyukur, yang penting hari itu simbah dan keluarganya bisa makan kenyang walau dengan makanan seadanya. Mbah hanya berharap, agar dirinya selalu diberi kesehatan dan umur panjang. Karena jika sakit, maka tidak ada yang bisa menggantikannya berjualan sendal jepit di pasar.
Penggalangan dana ini mencurigakan ? Laporkan
![]()
Belum ada Fundraiser